• Selasa, 29 November 2022

Satu Orang yang Tewas di Rumah Kalideres Ternyata Sudah Meninggal Sejak Enam Bulan Lalu

- Selasa, 22 November 2022 | 12:39 WIB
Ilustrasi jenazah (Pixabay/soumen82hazra)
Ilustrasi jenazah (Pixabay/soumen82hazra)

RADIOWEBINDO- Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Hengki Haryadi menyebut bahwa satu dari empat orang yang ditemukan tewas di rumah Kalideres, ternyata sudah meninggal sejak 13 Mei 2022.

Hal ini terungkap dari keterangan salah satu saksi, yakni petugas Koperasi Simpan Pinjam (KSP) yang hendak memproses penggadaian sertifikat rumah TKP. Penemuan tersebut diperoleh dari pelacakan tim digital forensik melalui nomor telepon petugas yang pernah berkomunikasi dengan penghuni rumah.

“Di mana salah satu nomor ini, kita telusuri, kita ambil keterangan saksi, akhirnya kita memperoleh tiga orang saksi penting dalam proses penyelidikan kami. Ternyata satu orang ini adalah mediator jual beli rumah, kami tidak sebutkan namanya,” ujar Hengki dikutip dari PMJ News, Selasa (22/11/2022).

Baca Juga: Jadwal Piala Dunia 2022 Hari Ini Selasa, 22 November 2022: Saksikan Pertandingan Argentina vs Saudi Arabia

Saat itu, sang mediator berinisiatif mengajak dua rekannya untuk meninjau rumah TKP pada 13 Mei 2022. Dalam peninjauan itu, diketahui bahwa adik dari Rudyanto Gunawan, Budyanto Gunawan sering menghubungi salah satu petugas.

Hengki juga menuturkan, Budyanto Gunawan diduga langsung menyerahkan sertifikat asli rumah atas nama Renny Margaretha Gunawan, istri Rudy. Rumah tersebut hendak dijual seharga Rp1,2 miliar, namun belum ada yang membeli.

“Pada tanggal 13 Mei, ternyata mediator ini ketemu dengan salah satu pegawai koperasi simpan pinjam. Oleh karenanya dibiarkan digadaikan sertifikat rumah itu. Pada saat itu, pegawai koperasi simpan pinjam itu tertarik mengingat lokasi perumahan ini memiliki NJOP yang tinggi. Sedangkan pembayaran untuk simpan pinjam itu maksimal 50 persen dari NJOP, rumah maupun tanah,” kata Hengki.

Sesampainya di TKP, mediator dan dua petugas KSP mencium aroma tidak sedap di depan rumah tersebut dan masuk ke dalam rumah. Budyanto beralasan, aroma itu berasal dari parit rumah yang tidak dibersihkan.

Baca Juga: Korban Bertambah, 162 Orang Tewas Akibat Gempa Cianjur

Dian, anak Renny mengatakan bahwa ibunya sedang tidur dan meminta petugas KSP untuk tidak menyalakan lampu kamar dengan alasan ibundanya memiliki sensitif terhadap cahaya.

“Pada saat dibangunkan untuk mengecek sertifikat ini, dipegang-pegang agak lembut, curiga. Tanpa sepengetahuan Dian, pegawai Koperasi Simpan Pinjam ini menghidupkan flash HP-nya,” terang Hengki.

“Begitu dilihat, langsung yang bersangkutan berteriak takbir, ‘Allahu Akbar! Ini sudah mayat!’ Di tanggal 13 Mei,” tambahnya.

Dian menyangkal dugaan tersebut dan bersikukuh bahwa ibunya masih hidup. Ia juga mengaku bahwa ia menjaga dan merawat Renny dengan baik.

Setelah itu, mediator dan dua rekannya langsung keluar dari rumah. Budyanto pun mengejar ketiganya dan meminta kepada mereka untuk tidak melaporkan kondisi yang terjadi di rumahnya.

“Tolong Pak, jangan sampai dilaporkan ke polisi, jangan dilaporkan pihak RT ataupun warga sini’. Dan ternyata tidak dilaporkan,” ucap Hengki.

Hengki menyayangkan aksi tutup mulut yang dilakukan oleh ketiga orang tersebut. Ia pun mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan pelaporan jika menemukan suatu kejadian.

“Ini yang kami sesalkan, seharusnya kita semua sebagai warga masyarakat tidak boleh permisif, kejadian seperti ini agar dilaporkan saja,” lanjutnya.

“Timeline ini kami cocokkan dengan keterangan saksi-saksi yang lain seputaran TKP, menyatakan memang ini cocok waktunya. Kami minta bukti, mana bukti bahwa saudara pernah datang pada tanggal 13 Mei. Ditunjukkanlah meta data, ternyata tanggal 13 Mei,” tutup Hengki.

Editor: Alfia Sudarsono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Daftar Booster Kedua Vaksin Covid-19 untuk Lansia

Rabu, 23 November 2022 | 13:59 WIB

Cristiano Ronaldo Resmi Tinggalkan Manchester United

Rabu, 23 November 2022 | 12:20 WIB
X