• Jumat, 7 Oktober 2022

Mulan Jameela Kritik Wacana Konversi Kompor Listrik

- Jumat, 23 September 2022 | 15:35 WIB
Mulan Jameela saay rapat kerja Komisi VII dengan Ditjen ILMATE Kemenperin, Rabu (21/9/2022). (YouTube DPR RI)
Mulan Jameela saay rapat kerja Komisi VII dengan Ditjen ILMATE Kemenperin, Rabu (21/9/2022). (YouTube DPR RI)

RADIOWEBINDO- Pemerintah saat ini tengah gencar mengampanyekan konversi penggunaan kompor berbahan bakar elpiji agar diganti dengan kompor listrik. Program ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk menekan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dan mengoptimalkan pemanfaatan listrik yang berlebih.

Namun program kompor listrik ini menuai kritik lantaran keterbatasan daya pelanggan kecil yang merupakan sasaran program. Salah satu yang mengkritik program tersebut adalah anggota komisi VII DPR RI Mulan Jameela.

Dalam rapat kerja Komisi VII dengan Ditjen ILMATE Kemenperin, Rabu (21/9/2022), Mulan Jameela meminta agar program konversi kompor LPG dengan kompor induksi dikaji lebih dalam oleh pemerintah. Menurut pengalamannya, kompor induksi tak cocok digunakan untuk memasak masakan Indonesia.

Baca Juga: Dengan Kemegahan dan Kesedihan, Dunia Ucapkan Selamat Tinggal Kepada Ratu Elizabeth

"Ini saya jujur ya, kapasitas saya sebagai anggota dewan dan sebagai emak-emak. Kami di rumah aja punya kompor listrik tetap tak bisa lepas dari yang gas, karena masakan Indonesia ya beda bukan masakan orang bule yang pancinya ya seukuran gitu aja," ungkap Mulan dikutip dari kanal YouTube Komisi VI DPR RI Channel.

Selain itu, Mulan juga menyoroti soal listrik yang akan digunakan. Ia khawatir penggunaan kompor listrik membuat tagihan listrik masyarakat membludak.

"Masyarakat yang kekurangan daya listriknya kan 450 VA, ini kebutuhannya 1.200-1.800 watt, gede sekali," kata Mulan.

Lebih lanjut program ini rencananya akan dilakukan dengan skala nasional, padahal menurutnya masih banyak daerah yang listriknya belum tersambung, dan daerah yang listriknya byarpet. Lalu Mulan pun menceritakan pengalaman pribadinya dengan kompor listrik yang ia punya.

"Jadi saya juga ada pengalaman ini saya punya rumah di Cisarua. Saya punya kompor listrik di sana, karena listrik nggak stabil kayak di kota itu kompornya rusak. Padahal, nggak diapa-apain cuma karena listrik nggak stabil," cerita Mulan.

Masalah lain yang muncul dalam program ini adalah mahalnya harga kompor induksi. Meski rencananya pemerintah akan memberikan seperangkat kompor secara cuma-cuma, Mulan khawatir masyarakat akan keberatan membeli peralatan masaknya.

"Tadi disampaikan kompor induksi ini harganya aja Rp 1,5 juta. Oke gratis. Apakah sudah termasuk wajan dan panci? Apa tersedia dalam berbagai ukuran? Belum lagi masalahnya kan wajan dan pancinya mahal-mahal," ujar Mulan.

Oleh karena itu, Mulan menyarankan agar program konversi kompor induksi ini diarahkan terlebih dahulu untuk masyarakat yang mampu.

"Misalnya nih kompor induksi ini diwajibkan untuk masyarakat yang memang mampu, ya mungkin bisa. Mereka sudah memang membutuhkan. Jadi bukan mereka masyarakat yang kekurangan, karena mereka secara daya listrik juga tak mampu," tutur Mulan.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memang telah menegaskan bahwa pemerintah tidak langsung menerapkan program peralihan penggunaan kompor listrik dari Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram. Erick menjelaskan, kompor listrik itu nantinya akan masuk terlebih dahulu pada masyarakat kelas menengah.

Editor: Alfia Sudarsono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

11 Momen yang Diperingati Setiap 3 Oktober

Senin, 3 Oktober 2022 | 20:10 WIB

Presiden Jokowi Minta Liga 1 Dihentikan Sementara

Minggu, 2 Oktober 2022 | 13:57 WIB

Istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi Akhirnya Ditahan

Jumat, 30 September 2022 | 20:46 WIB
X